Orang Tua Cenderung Lebih Banyak Membagikan Berita Palsu
The original site is no longer online; links go to the Internet Archive copy.
What the fact-checkers found
Warga Amerika Serikat yang berusia 65 tahun dan lebih tua berbagi lebih banyak berita palsu di Facebook selama pemilihan Presiden AS 2016 dibandingkan kelompok usia lainnya, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan baru-baru ini.
Para peneliti dari New York University dan Princeton University meneliti 1.300 orang yang berpartisipasi dalam penelitian tentang apa yang di- posting di timeline Facebook mereka antara bulan April dan November 2016 yang lalu. Artikel-artikel yang dibagikan ditandai sebagai berita palsu jika tautan masuk ke situs yang terkenal karena menyebarkan informasi palsu berulang kali.
Situs-situs tersebut tidak memasukkan daftar Breitbart, Fox News, dan lain-lain yang secara rutin dituduh mengarang cerita. Sebaliknya, mereka melihat blog-blog kecil yang sangat partisan yang menggunakan setiap trik untuk menjadi viral. Craig Silverman membuat daftar tersebut dan ini digunakan oleh orang-orang terpelajar untuk mengidentifikasi penjual berita palsu.
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa orang jarang berbagi berita atau lebih tepatnya, tidak berbagi apa yang disebut posting blog yang viral lebih dari 90 persen peserta tidak menyukai kebohongan. Tetapi dari yang kecil 8,5 persen yang melakukannya, mereka lebih cenderung merupakan orang berusia 65 atau lebih.
Kelompok usia tertua dikaitkan dengan berbagi hampir tujuh kali lebih banyak artikel dari domain berita palsu di Facebook dibandingkan dengan kelompok usia termuda. Dari semua tautan berbeda yang dibagikan, 11 persen di antaranya adalah berita palsu yang disebarluaskan oleh orang tua dibandingkan dengan hanya tiga persen oleh orang berusia antara 18 hingga 29 tahun.
Hal yang juga menarik adalah hasilnya independen dari faktor lain. Tidak masalah jika pengguna Facebook mengidentifikasi diri mereka sebagai Republik atau Demokrat atau apakah mereka liberal, moderat, atau konservatif, mereka cenderung banyak membagikan berita palsu.
Menurut peneliti terlepas apakah mereka memiliki ideologi konstan, identifikasi partai, atau keduanya, responden di setiap kategori usia lebih mungkin untuk berbagi berita palsu daripada responden dalam kelompok termuda berikutnya, dan kesenjangan dalam tingkat berbagi berita palsu di antara mereka yang berada dalam kategori tertua dan kategori termuda adalah besar dan menentukan.
Menurut Joshua Tucker, peneliti dan seorang profesor politik di New York University penjelasan yang paling mungkin berkisar pada literasi digital, yaitu mungkin orang Amerika yang lebih tua kurang akrab dengan teknologi baru media sosial dan oleh karena itu lebih kecil kemungkinannya untuk memahami bahwa berita palsu dapat terlihat mirip dengan berita yang asli ketika muncul di Facebook.
Where it circulated
The Register
Sumber Foto: Guardian NG
Got a similar message?
Paste it into the detector and see whether it matches a known hoax.
Check a similar messageRelated fact-checks
Browse the archive →[SALAH] "Tangkapan Layar Pengakuan Relawan Suntik Vaksin Covid-19 yang Menyebut Lupa Punya Hutang tapi Plonga-Plongo"
Hasil Periksa Fakta Konaah (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas 17 Agustus 1945). Judul artikel merupakan hasil suntingan. Judul asli artikel yang tayang pada 15 Agustus 2020 itu ditemukan pada artikel Kompas.com yang berjudul “Pengakuan Relawan Usai…
Peneliti: WhatsApp Kesulitan untuk Mengontrol Berita Palsu di India
Peneltian terbaru di India menunjukkan bahwa nasionalisme Hindu dan jatuhnya biaya layanan data telepon seluler mendorong pertumbuhan eksplosif berita palsu di India.
[BERITA] “Satgas Pangan Polri Pastikan Tak Ada Telur Palsu Beredar di Pasar”
“Beberapa jenis telur memang akan terlihat lebih cair atau terdapat bakteri di dalamnya saat disimpan terlalu lama. Terlebih, jika ada keretakan di cangkang telurnya, bakteri atau jamur akan lebih mudah masuk. Namun keberadaan telur palsu tidak dimungkinkan.
[SALAH] Pesan Berantai Video "Potensi Bahaya Vaksin COVID-19"
Isu yang sebelumnya sudah diklarifikasi, disebarkan kembali berkaitan dengan program vaksinasi yang saat ini sedang berlangsung. Video tentang respon imun ADE (Antibody-dependent Enhancement), yang berdasarkan hasil penelitian hingga saat ini TIDAK ditemukan…