[SALAH] "Jokowi hari ini tolak di suntik vaksin Covid-19 duluan"
Archived here with a link to the original.
What the fact-checkers found
Faktanya, pada Rabu (16/12/2020) Presiden Joko Widodo menegaskan, ia akan menjadi orang pertama yang diberi vaksin Covid-19. Menurutnya, hal ini untuk meyakinkan masyarakat bahwa vaksin virus corona aman digunakan. Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI
Kategori : Konten yang Menyesatkan
Akun Darsip La Ba’a Patty (fb.com/ongen.patty.351) pada Senin, 21 Desember 2020 menuliskan klaim mengenai Presiden Jokowi tidak mau divaksin lebih dulu. “Jokowi hari ini tolak di suntik vaksin Covid-19 duluan. Memberikan contoh kok tidak mau" tulis akun tersebut. Sumber : https://archive.vn/Z5I12 (Arsip)
PENJELASAN Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas, klaim bahwa Presiden Joko Widodo menolak disuntik vaksin Covid-19 lebih dulu adalah klaim yang salah. Faktanya, pada Rabu (16/12/2020) Presiden Joko Widodo menegaskan, ia akan menjadi orang pertama yang diberi vaksin Covid-19. Menurutnya, hal ini untuk meyakinkan masyarakat bahwa vaksin virus corona aman digunakan. “Saya juga ingin tegaskan lagi, nanti saya yang akan menjadi penerima pertama, divaksin pertama kali.
Hal ini untuk memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada masyarakat bahwa vaksin yang digunakan aman," kata Jokowi melalui tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (16/12/2020) seperti dilansir oleh Kompas.com. Ketika berdialog dengan pedagang dan pelaku UMKM di Istana Kepresidenan, Bogor, Jumat (18/12/2020), Jokowi menegaskan hal itu kembali. “Saya sudah menyampaikan, saya nanti yang akan divaksin pertama kali.
Di Indonesia ini saya yang pertama kali untuk menunjukkan bahwa divaksin itu tak apa-apa," kata Jokowi, dikutip Kompas.com, Jumat (18/12/2020). Menurutnya, jika semuanya sudah divaksin, maka kondisi kehidupan bisa kembali normal. Namun, Jokowi mengingatkan bahwa proses vaksinasi memerlukan waktu yang cukup lama. Sebab, target vaksinasi Covid-19 sebanyak 67 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Persentase itu setara dengan 182 juta penduduk.
“Sebanyak 182 juta penduduk bayangkan. Banyak sekali. Memerlukan waktu untuk menyuntik satu-satu (warga)," ucapnya. Sebelumnya, Jokowi menyebutkan, vaksinasi Covid-19 akan dilakukan secara bertahap, terhitung mulai Januari 2021. Ia memastikan, vaksin yang diberikan pemerintah ke masyarakat tidak berbayar atau gratis. “Tapi ini memang perlu tahapan-tahapan, nanti Januari berapa juta (vaksin), Februari berapa juta, Maret berapa juta, April berapa juta," kata Jokowi. REFERENSI
https://www.kompas.com/tren/read/2020/12/26/143100765/-hoaks-presiden-jokowi-…
https://nasional.kompas.com/read/2020/12/16/14150871/jokowi-akan-jadi-orang-p…
https://nasional.kompas.com/read/2020/12/18/15021381/jokowi-saya-yang-pertama…
Got a similar message?
Paste it into the detector and see whether it matches a known hoax.
Check a similar messageRelated fact-checks
Browse the archive →[SALAH] Vaksin Bermasalah dan Mengerikan, Disuntik Bisa Menjadi Sakit dan Sekarat
Hasil periksa fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara) Klaim tersebut keliru. Faktanya, 240 warga Israel tersebut telah terjangkit Covid-19 sebelum dilakukannya penyuntikkan vaksin.
[SALAH] Jokowi Bukan Disuntik Vaksin, Melainkan Suntik Vitamin
Hasil periksa fakta Rizqi Abdul Azis (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia). Klaim tidak berdasar. Jokowi melakukan suntik vaksin disiarkan secara langsung dengan memperlihatkan kemasan vaksin Sinovac yang belum dibuka.
[SALAH] "Tangkapan Layar Pengakuan Relawan Suntik Vaksin Covid-19 yang Menyebut Lupa Punya Hutang tapi Plonga-Plongo"
Hasil Periksa Fakta Konaah (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas 17 Agustus 1945). Judul artikel merupakan hasil suntingan. Judul asli artikel yang tayang pada 15 Agustus 2020 itu ditemukan pada artikel Kompas.com yang berjudul “Pengakuan Relawan Usai…
[SALAH] Telapak Kaki Relawan Melepuh Efek Samping Suntik Vaksin Covid-19
Hasil periksa fakta Rizqi Abdul Azis (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia). Informasi tidak sesuai fakta. Relawan vaksin dalam foto hanya mendapatkan suntikan obat plasebo, bukan vaksin sebenarnya.