✕HoaxIndonesian

[SALAH] "Salah Satu Solusi untuk Virus Ini adalah Secangkir Teh Sederhana"

Fact-check by Satgas COVID-19 Hoax BusterPublished 2 min read

Archived here with a link to the original.

Tidak ada bukti ilmiah atas klaim minum teh dapat membantu mengurangi dampak COVID-19 pada tubuh manusia. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter Li Wenliang meneliti efek dari bahan kimia itu terhadap pasien Corona.

What the fact-checkers found

Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa minum teh dapat membantu mengurangi dampak COVID-19 pada tubuh manusia adalah klaim yang tidak ada bukti ilmiah. Selain itu, tidak ditemukan situs kredibel yang menulis tentang dokter Li Wenliang ataupun rumah sakit di Cina yang menggunakan teh panas untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19.

Sebaliknya, beberapa media telah menerbitkan artikel bantahan atas pesan berantai yang juga viral di sejumlah negara itu, seperti India dan Singapura. Dikutip dari China Daily, pada akhir Februari 2020, beredar sebuah artikel yang mengklaim bahwa minum teh dapat membantu mencegah infeksi virus Corona COVID-19.

Menurut artikel itu, para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Zhejiang, Cina, dalam sebuah percobaan dengan sel yang dikultur secara in vitro, menemukan bahwa teh, yang kaya polifenol, bekerja dengan baik dalam membunuh virus tersebut secara ekstraseluler dan menekan proliferasi intraselulernya. Namun, hal itu dibantah oleh seorang ahli imunologi. Menurut dia, virus Corona COVID-19 menginfeksi sel epitel alveolar di paru-paru.

Sementara teh yang diminum tidak akan mencapai paru-paru. Bahkan, jika percobaan in vitro menunjukkan bahwa teh dapat membunuh virus tersebut, tidak berarti bahwa minum teh bisa menghasilkan efek yang sama. Setelah tes in vitro, uji coba pada hewan harus dilakukan, kemudian dipertimbangkan untuk uji klinis pada manusia. Hasil tes in vitro tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa minum teh dapat membantu mencegah infeksi virus Corona Covid-19.

Saat ini pun, artikel yang dipublikasikan lewat akun WeChat CDC Zhejiang tersebut sudah dihapus. Staf CDC Zhejiang mengatakan temuan dari penelitian terbaru akan dipublikasikan melalui akun WeChat setelah prosedur-prosedur yang diperlukan telah diselesaikan. Dilansir dari BBC, memang benar bahwa methylxanthine ditemukan dalam teh, serta dalam kopi dan coklat.

Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter Li Wenliang meneliti efek dari bahan kimia itu terhadap pasien Corona. Li Wenliang pun merupakan seorang dokter spesialis mata, bukan ahli virus. Selain itu, menurut laporan BBC, klaim bahwa rumah sakit di Cina merawat pasien Corona dengan memberikan teh tidak benar. India Today pun telah melakukan verifikasi klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah atas klaim itu.

Sejauh ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), belum ada vaksin ataupun obat yang bisa mencegah serta mengobati COVID-19. Para pasien Corona hanya mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala-gejalanya. Sementara pasien yang mengalami gejala sakit yang lebih serius harus dibawa ke rumah sakit. Ada beberapa kandidat vaksin serta obat untuk COVID-19 yang masih diteliti melalui uji klinis.

WHO tengah mengkoordinasikan upaya dalam menyediakan vaksin dan obat untuk mencegah dan mengobati COVID-19 tersebut. WHO juga menyatakan bahwa cara yang paling efektif untuk melindungi diri dan orang lain dari COVID-19 adalah sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk-batuk atau bersin-bersin.

Sources and references

Original source: covid19.go.idOpen the original
Pass it on

Got a similar message?

Paste it into the detector and see whether it matches a known hoax.

Check a similar message
Browse the archive →